ekspresi muka

Rabu, 02 Januari 2019

Pengertian CyberCrime beserta Jenis dan Contohnya

i

Pengertian CyberCrime Beserta Jenis dan Contoh Kasus CyberCrime yang Sering Terjadi

Cybercrime mulai dilakukan pada tahun 1988. Awalnya CyberCrime dilakukan dengan penyerangan yang menciptakan sebuah virus yang bisa mematikan sistem komputer yang terhubung dengan internet. Tindakan ini adalah tindakan kriminal yang bisa menyebabkan terjadinya kerusakan data pada sistem komputer yang terserang virus.
CyberCrime bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Semakin berkembangnya teknologi internet dan teknologi lainnya, cybercrime menjadi masalah yang sudah lama meresahkan masyarakat. CyberCrime bisa dilakukan dengan tujuan apapun, bahkan dengan tujuan iseng sekalipun. CyberCrime sangat patut untuk diwaspadai karena cybercrime menyasar data atau informasi kita di dunia maya. Lebih jelas mengenai pengertian CyberCrime bisa anda simak dibawah ini.

Pengertian CyberCrime

pengertian cybercrime adalah
CyberCrime lebih dikenal dengan nama kejahatan dunia maya. CyberCrime merupakan salah satu bentuk kejahatan yang tidak boleh dilakukan oleh semua orang. CyberCrime adalah kejahatan yang dilakukan dalam dunia maya melalui komputer atau internet. CyberCrime termasuk dalam kategori tindakan kejahatan kriminal. CyberCrime telah banyak dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
CyberCrime bisa dilakukan oleh orang yang menguasai bidang teknologi. CyberCrime bisa dilakukan dimana saja sesuai dengan keinginan pelaku. Pelaku cybercrime bisa disebut dengan Hacker. Hacker akan menyerang sistem komputer untuk melancarkan usahanya untuk melakukan kejahatan dalam dunia maya. Hacker bisa saja mencuri data pribadi anda, dan melakukan pembobolan kredit. Banyak jenis kejahatan CyberCrime yang bisa dilakukan oleh sang Hacker.

Jenis-jenis Cybercrime

jenis-jenis cybercrime (carding)
Banyak jenis-jenis Cybercrime yang harus anda ketahui untuk menjaga keamanan data dan sistem komputer anda. Berikut adalah jenis-jenis CyberCrime yang harus anda ketahui:

1. Masuk ke akun orang lain dengan sengaja (Unauthorization Access)

Masuk ke akun orang lain dengan sengaja bisa dikategorikan dalam kejahatan cybercrime. Kejahatan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai macam akun, bahkan akun komputer pribadi. Ketika seseorang bisa masuk ke akun orang lain, akan banyak resiko yang bisa terjadi, antara lain:
  • Seseorang tersebut bisa mencuri data dalam akun atau komputer anda.
  • Seseorang tersebut bisa menghapus data dan informasi yang ada dalam akun atau komputer anda
  • Seseorang bisa menggunakan akun anda untuk kejahatan, seperti melakukan penipuan terhadap orang lain dengan mengatasnamakan nama anda.

2. Menyebarkan konten-konten ilegal (illegal Content)

Dengan berkembangnya teknologi yang super cepat, semua orang bisa mengakses segala hal hanya dengan menggunakan internet. Penyebaran konten ilegal termasuk dalam jenis cybercrime karena hal ini sangat mengganggu pengguna internet lainnya. Konten ilegal yang disebarkan bisa berupa pornografi, atau berita hoax yang sangat mengganggu keresahan masyarakat.

3. Carding

Carding adalah penggunaan kartu kredit milik orang lain, umumnya milik orang lain di luar negeri untuk digunakan bertransaksi hal yang lain. Carding sangat dilarang oleh dunia internasional karena dapat menyebabkan kerugian pada sasaran carding. Saat ini, indonesia juga melarang adanya carding. Semua transaksi yang dilakukan dengan melibatkan luar negeri akan diseleksi dengan ketat sesuai aturan yang ada.

4. CyberSquatting

Cybersquatting adalah tindakan cybercrime yang dilakukan dengan cara menjual domain suatu perusahaan ke perusahaan itu sendiri dengan harga yang sangat mahal. Hal ini dikategorikan menjadi cybercrime karena merugikan pihak perusahaan.

5. Cyber Typosquatting

Cyber Typosquatting adalah tindakan meniru website orang lain atau perusahaan lain dengan menyebarkan berita atau info penipuan. Hal ini dikategorikan sebagai cybercrime karena dapat merugikan orang lain dan perusahaan. Membuat informasi palsu dan menyebarkan informasitersebut ke masyarakat umum.

6. Hacking

Hacking adalah tindakan cybercrime yang dilakukan oleh hacker. Hacking bisa dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa diantaranya adalah menduplikasi sebuah web untuk penipuan, melakukan DDOS, dan masih banyak yang lainnya.

7. Cyber Espionage

Cyber Espionage merupakan tindakan kejahatan kriminal dalam dunia teknologi. Cyber Espionage digunakan untuk memantau sesuatu dengan cara masuk ke dalam jaringan seseorang tanpa izin. Hal ini bisa menimbulkan banyak resiko. Data dan informasi dalam jaringan bisa saja dicuri dan disebarkan ke umum, padahal data dan informasi tersebut adalah hal yang sangat rahasia.

Contoh-contoh Kasus Cybercrime

pengertian cybercrime beserta contoh kasus cybercrime
Contoh Kasus Cybercrime yang banyak beredar di lingkungan masyarakat adalah sebagai berikut:

1. Pemalsuan identitas untuk menipu orang lain

Banyak terjadi di masyarakat umum, kejadian ini sangat mudah dilakukan. Salah satu contohnya tiba-tiba menelepon target (orang yang dituju) dan mengaku sebagai saudara atau temannya dan meminta pinjaman uang dan harus melakukan transfer saat itu juga. Banyak alasan yang digunakan pelaku untuk bisa menipu target.

2. Pembajakan website perusahaan atau instansi

Kejadian ini banyak terjadi dengan sms undian berhadiah. Biasanya info undian berhadiah akan mengarahkan ke sebuah website yang mirip dengan website asli sebuah instansi. Ketika masyarakat awam yang mendapat info ini, mungkin orang tersebut akan menjadi sasaran pelaku untuk melancarkan tindakannya.

3. DDOS

DDOS bisa dilakukan oleh semua orang yang paham mengenai security. DDOS ditujukan untuk sebuah website suatu instansi/ perusahaan/ perseorangan. DDOS adalah tindakan yang ditujukan untuk melumpuhkan target (sistem atau website). Dengan begitu sistem atau website akan terganggu performanya, dan akhirnya tidak bisa diakses.
DDOS adalah tindakan yang sangat berbahaya karena bisa merusak data dan informasi yang terdapat dalam server atau website tersebut. Data bisa saja tidak dapat diakses. Oleh karena itu, DDOS merupakan salah satu kasus cybercrime yang sangat berbahaya.

4. Sniffing

Sniffing adalah tindakan mencuri password dan username orang lain dengan cara sengaja atau tidak sengaja. Sniffing bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ketika pelaku telah mendapatkan informasi mengenai username dan password target. Pelaku akan mudah untuk masuk ke akun target untuk melancarkan aksinya. Pelaku bisa saja menggunakan akun target untuk menipu orang lain mengatasnamakan target dan bisa saja menghapus data yang ada dalam akun target.
Itulah pembahasan mengenai pengertian cybercrime beserta jenis dan contoh kasusnya. Cybercrime merupakan hal yang tidak boleh dilakukan karena dapat merugikan orang lain. Untuk menghindari cybercrime, anda harus hati-hati ketika menggunakan jaringan internet umum. Jangan berikan data atau informasi pribadi ke sembarangan orang. Dan selalu mengganti password secara berkala untuk menghindari cybercrime. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda dan anda selalu menjaga informasi dan data anda pada tempat yang tepat.
Sumber;https://www.nesabamedia.com/pengertian-cybercrime/

Pengertian DNS NAWALA



Mengenal lebih dekat DNS Nawala

Kita telah membas tentang latar belakang dan sebab kenapa muncul DNS filtering dalam artikel sebelumnya mengenai DNS Nawala. Namun masih banyak yang belum paham mengenai apa itu DNS. DNS merupakan singkatan dari Domain Name System. Domain Name System adalah suatu mekanisme untuk memudahkan pengguna internet mengakses sebuah server tanpa perlu mengingat IP address-nya. Pada dasarnya saat komputer melakukan browsing, browser akan mengakses DNS server terlebih dahulu untuk menerjemahkan domain yang disebutkan pengguna menjadi IP address server.
dns nawala
Oleh karena itu, filtering dapat dilakukan pada server DNS. Ketika seorang pengguna mengakses suatu situs yang dianggap tidak sesuai, maka DNS akan memberikan jawaban IP address server lain yang ditentukan oleh pemilik server DNS. Alamat yang terdeteksi ini umumnya dari nama atau memang IP address-nya sudah masuk ke dalam daftar hitam server DNS tersebut. Jawaban yang dikirim ke browser adalah merupakan pengalihan konten ke server lokal yang menampilkan informasi bahwa halaman yang dimaksud tidak dapat diakses.
Lalu, apa itu DNS Nawala?
DNS Nawala adalah layanan gratis yang berupa filtering/penyaringan DNS yang bebas biaya dan dapat digunakan oleh semua pengguna internet. Layanan ini memfilter atau menyaring konten negatif berupa konten porno, kekerasan atau kejahatan internet. Layanan ini ditujukan untuk membantu para pengguna internet untuk menyaring konten yang tidak sesuai dengan perundangan, adat istiadat, nilai, norma sosial dan kesusilaan bangsa. Yang termasuk konten ini adalah konten pornografi, perjudian dan penipuan yang sudah sangat umum di dunia maya. Hal ini juga memberikan perlindungan bagi pengguna internet dari malwaer dan situs phising.
Kelebihan lain dari DNS nawala adalah:
  1. Sifatnya gratis dan tidak dikenakan biaya apapun untuk menggunakan DNS filtering ini. Siapapun dan dimanapun boleh menggunakan DNS ini karena dibiayai dari donasi oleh komunitas dan pihak yang peduli terhadap pentingnya internet yang bersih, aman, nyaman dan menyenangkan.
  2. Dapat digunakan di berbagai sistem operasi tanpa melakukan pemasangan software tertentu. Bahkan saat ini dapat digunakan di perangkat bergerak seperti ponsel dan tablet.
Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informatika sangat mendukung dan menyambut baik hadirnya DNS Nawala. Pemerintah memang sudah berusaha bertindak tegas terhadap konten pornografi di internet. Disebutkan bahwa pemblokiran konten pornografi ini sudah memiliki payung hukun yang cukup kuat yakni:
  1. Undang-Undang No 44/2008 tentang Pornografi,
  2. UU ITE Nomor 11 Tahun 2008 UU, dan
  3. UU Telekomunikasi Nomor 36 Tahun 1999.
Saat ini pemerintah dan penyedia jasa internet (PJI) sudah menggunakan database dari Massive Trust Positif dan DNS Nawala untuk memblokir situs yang tidak sesuai, baik secara lokal maupun global. Dengan layanan ini diharapkan para pengguna internet, terutama orang tua dan orang yang peduli dengan moral bangsa dapat mengakses internet dengan nyaman dan tenang. Masyarakat dapat berpartisipasi dalam melaporkan situs porno dan situs lain yang tidak sesuai melalui situs nawala.org. (iwan)
Sumber;http://www.belajar-komputer-mu.com/2012/09/mengenal-lebih-dekat-dns-nawala.html

Penjelasan TCP/IP dan Enkapsulasinya

Penjelasan TCP/IP Serta Enkapsulasinya

TCP/IP
Dari materi sebelumnya, kita sudah mengetahui bahwa ada 2 jenis networking model, yaitu TCP/IP dan OSI. Di bab kali ini kita akan membahas tentang TCP/IP, sejarahnya, hingga proses enkapsulasinya.
Kita bisa menganggap bahwa networking model itu adalah sekumpulan dokumen. Masing-masing dokumen ini berisi syarat-syarat yang agar suatu jaringan dapat berfungsi dan juga aturan-aturan logis (protocol).

Apa itu protocol?

Analoginya, ketika ingin membuat sebuah bangunan, tentunya kita butuh yang namanya blueprint, bagaimana pondasinya, desain internal, desain external, tata letak ruangan, hingga alur-alur kelistrikan, gas, pembuangan asap, dan lain sebagainya.
Dengan adanya blueprint tersebut, semua pihak yang mengerjakan bangunan tersebut akan bisa bekerja dengan baik, dari tukang listrik, tukang cat, interior desainer, dan seterusnya sudah mengikuti acuan yang sama.
Jadi, protocol merupakan cara agar setiap perangkat yang berbeda-beda bisa saling berkomunikasi dengan efektif baik secara perangkat lunak maupun perangkat keras.

Sedikit Sejarah Tentang OSI dan TCP/IP

Mari kita lanjut tentang penjelasan TCP/IP.
Sekedar mengingatkan, ini adalah Bab 2 dari materi networking model. Jika kamu belum paham mengenai networking model secara keseluruhan, saya sarankan untuk memahami bab sebelumnya terlebih dahulu.
Dulu, belum ada networking model, termasuk TCP/IP. Setiap vendor membuat standar proprietary mereka sendiri, misalnya IBM dengan networking modelnya yang dikenal dengan Systems Network Architecture (SNA) di tahun 1974.
Begitu juga vendor yang lain. Bisa dikatakan, mereka saling bersaing menciptakan networking model terbaik agar yang lain menggunakannya.
Tentu ini keadaan yang buruk. Sehingga International Organization for Standardization (ISO) mengambil peran untuk mengatasi hal ini, dengan membuat standar yang kita kenal dengan OSI.
Disamping itu, ada juga organisasi lain yang mengembangkan standar dengan tujuan yang sama dan dengan arsitektur yang mirip-mirip, yaitu Department of Defense (DoD). Model ini kita kenal dengan TCP/IP atau kadang disebut dengan Dod Model.

TCP/IP Sebagai Networking Model Saat Ini

Saat ini, dunia jaringan komputer sudah mengacu ke standar yang sama, yakni TCP/IP.
Yup, bukan OSI.
Kenapa?
Penjelasannya ada di materi berikutnya tentang OSI Model.
Kira-kira tahapannya seperti ini:
Penggunaan TCP/IP
Gambar 1: Progress penggunaan proprietary model ke TCP/IP
Sejarah antara TCP/IP dan OSI sebenarnya sangat panjang. Saya juga sedang mempelajarinya dan masih bingung, misalnya dengan pertanyaan “yang mana pertama kali ada, TCP/IP atau OSI?”
Kamu bisa memberikan komentar dibawah jika mengetahui tentang ini.
Sehingga perbandingan TCP/IP dan OSI secara mendalam tidak kita bahas saat ini, tapi berikut ini bisa kamu jadikan referensi:
  • Online: TCP/IP Guide
  • Buku: Computer Networking – Kurose Ross atau Computer Network – Andrew S Tanenbaum
  • … atau yang menjelaskan sejarah dan perbandingan antara OSI dan TCP/IP secara lebih rinci: Open Systems Networking – Piscitello and Chapin

Manfaat Adanya TCP/IP

Saya sudah menjelaskan manfaat networking model secara umum di materi sebelumnya. Kali ini kita akan fokus ke TCP/IP.
Karena networking model yang digunakan sekarang adalah TCP/IP, maka produk-produk internet sekarang sudah mengadopsi TCP/IP.
Contohnya, jika saat ini kamu membeli sebuah flash drive, maka flash drive tersebut sudah menerapkan TCP/IP. Ini artinya kamu bisa mengunakannya di laptop, komputer, di semua perangkat yang berbeda.
… atau misalnya. Saat kita ingin membangun sebuah infrastruktur yang baru.
Sebelum ada TCP/IP, kita harus membeli perangkat yang satu merk, dari router, switch, firewall, server, semuanya.
Sekarang, tidak lagi.
Karena vendor saat ini bisa saja unggul di perangkat router, namun tidak begitu dengan firewall. Misalnya kita ingin menggunakan router dan switch cisco, namun lebih memilih menggunakan Palo Alto firewall.
Tidak masalah. Kita bisa mengimplementasikan routing protocol, link aggregation, dll tanpa ada kendala kompatibilitas. Karena semuanya sudah menggunakan TCP/IP.

Beberapa Hal yang ‘Mungkin’ Menjadi Penyebab Dipilihnya TCP/IP Menjadi Standar Networking Model

Bagi beberapa orang, termasuk saya, mengetahui TCP/IP adalah standar networking model yang dipilih adalah hal yang menarik.
Faktanya, OSI yang sekarang cenderung lebih familiar untuk sebagian dari kita,  sebenarnya tidak pernah menjadi standar networking model. Aneh ya?
Sebaliknya, yang digunakan adalah TCP/IP. Ini beberapa penyebabnya:
  • OSI bersifat lebih formal, lambat pengembangannya, karena dilakukan oleh orang-orang tertentu saja.
  • TCP/IP dikembangkan oleh voluntir-voluntir seluruh dunia, tentu keadaannya berbalik dibanding OSI
Singkatnya seperti itu.
Sebelum TCP/IP benar-benar dipakai, setiap vendor masih ada yang menggunakan protocol proprietary mereka sendiri, dan kala itu TCP/IP masih sebatas menjadi ‘gateway’nya saja.
Mulai era 1990 hingga sekarang, setiap perangkat sekarang sudah menerapkan TCP/IP. Sekali lagi, bukan OSI. (Lihat gambar 1 diatas).

TCP/IP Menggunakan Dokumen RFC

Apakah kamu sering mendengar istilah RFC?
RFC atau Request for Comment adalah sebuah dokumen resmi yang digunakan Internet Engineering Task Force (IETF), isinya merupakan draft, tinjauan, yang nantinya akan di review oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Usulan-usulan di RFC inilah nantinya yang akan menjadi standar internet, contohnya Internet Protocol di definisikan dalam RFC791 dan OSPF di definisikan di RFC 1247.
RFC bersifat numbered. Isi dokumennya sangat detil tentang sebuah protokol, bagaimana cara kerjanya, prosedur penggunaan, konsepnya, dan seterusnya.
Tidak hanya tinjauan formal, bahkan RFC bisa saja berisi humor karena setiap orang bisa saja mengajukan apapun ke RFC, kamu juga bisa melakukannya melalui RFC Editor.
Ini juga salah satu faktor yang menjadikan TCP/IP lebih berkembang dibanding OSI.

TCP/IP Layer

Seperti penjelasan saya diatas, begitu banyak protokol yang didefinisikan di RFC, kamu bisa membukanya di laman https://www.ietf.org/rfc.html.
Tapi tidak semua protocol didefinisikan di RFC. Hal ini tidak berlaku untuk protocol yang sudah exist deluan.
Contohnya Ethernet LAN.
Ethernet LAN sudah didefinisikan oleh IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE), maka TCP/IP tidak lagi mendefinisikannya di RFC, melainkan merujuknya ke IEEE.
Tapi..
Tetap saja kan, banyak, kompleks.
Ini beberapa contoh protocol yang mainstream: HTTP, TCP, UDP, OSPF, EIGRP, BGP, OSPF, IPv4, RIP, dan masih banyak lagi.
Itu semua akan membuat kita pusing.
Ini berarti, bukan cara yang baik untuk memahami TCP/IP dimulai dengan protocolnya.
Nah, ada cara yang lebih mudah untuk memahami TCP/IP.
Disinilah fungsi lapisan, atau yang kita kenal sebagai layer.
TCP/IP Layer
Gambar 2: TCP/IP Layer
TCP/IP sekarang sudah memiliki  5 layer, perbedaannya terletak pada pembagian layer 1 (link) TCP/IP original menjadi Data Link dan Physical di TCP/IP updated.
Tapi untuk saat ini, anggap saja kita mengacu TCP/IP layer original dengan 4 layer.

Studi Kasus TCP/IP

Dengan adanya lapisan TCP/IP ini, protocol yang banyak tadi akan dikategorikan berdasarkan fungsinya.
Ada yang di layer 1, layer 2, layer 3, dan layer 4. Sehingga kita lebih mudah memahaminya.
Jadi seperti ini:
Protocol TCP/IP
Gambar 3: Lapisan TCP/IP dan Contoh Protocolnya
Ada banyak sekali protocol. Tapi yang kita bicarakan sekarang hanya seperti pada kolom sebelah kanan seperti tertera pada gambar, yakni HTTP, TCP, UDP, IP, dan Ethernet.
Mungkin kamu sudah bisa menebak, kita akan menggunakan sampel umum: “Ketika seseorang membuka browser, dan mengakses suatu halaman web”.
Yup, ini studi kasusnya.
Saya harap menjadi lebih mudah untuk dipahami.
Oh ya, sebelum kita mulai. Jangan salah paham mengenai TCP, IP, dan TCP/IP.
TCP, dan IP, adalah 2 protocol yang berbeda yang akan saya jelaskan dibawah. Sedangkan TCP/IP adalah sebuah networking model. Karena berisi banyak protocol maka disebut juga protocol suite.
Mari kita mulai.

#1. TCP/IP Application Layer

Fungsi application layer hanya menyediakan layanan terhadap aplikasi yang berjalan di komputer. Ingat, hanya layanannya, bukan aplikasinya.
Misalnya, application protocol FTP adalah Filezilla.
… atau application protocol HTTP adalah web browser, yang paling kita kenal saat ini. Meskipun faktanya browser tidak hanya bisa dilakukan dengan aplikasi seperti itu, bisa juga dengan terminal misalnya di linux.
Nah tugas application layer disini adalah untuk mendefinisikan bagaimana sebuah browser bisa mengambil konten dari sebuah web server hingga akhirnya tampil di web browser.
Berikut penjelasan mekanisme HTTP lebih detil.

Proses Komunikasi HTTP Secara Umum

Bayangkan seseorang membuka web browser dan mengakses suatu web. Proses sederhananya kira-kira akan seperti ini.
Proses HTTP
Gambar 4: Proses HTTP (Dasar)
Misalnya saat kamu membuka situs ini, kamu akan mendapatkan laman dari https://ngonfig.net yang merupakan homepagenya.
Mengenai https atau Hypertext Transfer Protocol Secure merupakan versi secure dari HTTP, karena menggunakan SSL atau Secure Socket Layer.  Kadang disebut juga sebagai SHTTP atau S-HTTP.
Tujuannya agar komunikasi terjadi dengan aman karena data yang terkirim akan terenkripsi. Ini penting terutama pada situs-situs jual beli dimana pengguna menginputkan data confidential seperti credit card.

Mekanisme HTTP

Diatas itu contoh yang paling sederhana atau kita sebut basic logic proses HTTP. Secara teknis tidak seperti itu.
Di pertengahan 1990, Barner Lee menciptakan HTTP, web browser dan web server. HTTP disini memberikan kemampuan ke web browser untuk meminta isi konten dari web server.
Begitu juga dengan web server, dengan HTTP dia bisa memberikan isi konten yang diminta oleh client.
Prosesnya seperti ini:
Mekanisme HTTP
Gambar 5: Mekanisme HTTP: – HTTP Get Request, – HTTP Get Reply, – HTTP Data
Protocol menggunakan header untuk menyimpan informasi. Dari mekanisme HTTP diatas kita bisa melihat 3 proses yang terjadi saat client merequest laman web dari server.
  1. GET Header: Anggap client mengakses https://ngonfig.net, berarti server akan mengirimkan homepagenya. Begitu juga jika mengakses URL spesifik.
  2. GET Reply: server menanggapi header dari client, dan membalasnya terlebih dahulu dengan HTTP Header “OK” dilanjutkan mengirim sebagian isi homepage. Ini jika berhasil, maka headernya akan bernilai “200”, selain itu misalnya “404” yang kita kenal dengan not found.
  3. HTTP Data: karena komunikasi sudah terinisialisasi, maka server tetap lanjut mengirim isi konten home.html, lebih efektif daripada mengirimkan header berulang-ulang.
Jika kita melihat proses dari application layer, maka sekilas prosesnya selesai dan sederhana. Padahal ada sekian proses lagi yang terjadi, yaitu di layer-layer bawahnya.
Materi ini masih panjang, so let’s keep reading 🙂

#2. TCP/IP Transport Layer

Transport layer di TCP/IP disebut juga sebagai Host-to-Host, fungsinya untuk membangun koneksi antar host. Misal antara komputer satu dengan yang lain, client dengan server.
Ada banyak protocol yang berada di tranport layer, tapi yang paling kita kenal secara umum yaitu TCP (Transmission Control Protocol) dan UDP (User Datagram Protocol).
Kembali ke proses HTTP diatas, kita mengakses situs web tentunya menginginkan data yang reliable.
Reliable seperti apa maksudnya?
Faktanya, pengiriman data dari satu komputer ke komputer lain itu prosesnya cukup kompleks, dan banyak prosedurnya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan data gagal terkirim.
Bayangkan saat ini kamu membaca situs ini dengan jaringan yang sering terganggu, sehingga menyebabkan ada paragraf yang hilang, ada judul yang hanya setengah, atau huruf kata-kata yang hilang ditengah paragraf.
Buruk kan?
Disinilah dibutuhkan TCP.

Transmission Control Protocol

Sampai disini kita setuju bahwa komunikasi HTTP diatas  berjalan dengan menggunakan TCP.  Artinya HTTP membutuhkan jaminan agar data-data bisa dikirim secara sempurna.
Ketika data ada yang gagal terkirim, si penerima harus sadar bahwa hal itu terjadi, dan meminta pengiriman ulang.
Caranya seperti ini: TCP memecah data-data tersebut (segment) lalu mengirimkannya berdasarkan Sequence number (SEQ).
TCP juga memiliki banyak fungsi, tapi fokus kita hanya pada satu fungsi utama yang paling dikenal, yaitu TCP Error Recovery.
TCP Error Recovery
Gambar 6: TCP Error Recovery
Seperti ini prosesnya:
  1. Server sedang mengirim segment-segment dengan beberapa sequence number client.
  2. Namun pada seq 2, segment gagal terkirim.
  3. Setelah client menerima semua data, ternyata ada yang lost. Maka client meminta server untuk mengirimkan kembali segment yang lost pada seq 2.
Begitulah proses TCP error recovery.
Sebelum kita lanjut, sebenarnya ada hal lain yang terjadi sebelum sampai pada proses ini. Yaitu pembentukan koneksi.

Three-Way Handshake TCP

Jangan berfikir bahwa ketika kamu menginputkan alamat situs ini dibrowser, laptop yang kamu gunakan akan langsung menerima konten situs ini. Tidak.
Saat client menginputkan alamat url di web browser, maka client melakukan request ke server untuk membentuk koneksi, disebut establishing connection. Inilah kenapa komunikasi TCP disebut connection oriented.
Pembentukan koneksi ini akan membentuk sebuah virtual link. Jalur virtual yang digunakan untuk pengiriman segment.
Three-way Handshake TCP
Gambar 7: Three-way Handshake TCP
Dengan kata lain, pengirim dan penerima melakukan persetujuan dulu untuk melakukan transmisi. Setelah keduanya setuju, maka dilakukan pembentukan koneksi, dilanjutkan dengan pengiriman data.
Dalam proses pengiriman data inilah dibutuhkan TCP Error Recovery yang sudah saya jelaskan diatas.
Jadi alurnya: Pembentukan Koneksi –> Pengiriman Data (dengan error recovery).

User Datagram Protocol (UDP)

Pertanyannya, apakah semua host-to-host menggunakan TCP?
Tidak selalu. Karena tidak semua komunikasi membutuhkan pengiriman data yang reliable. Contohnya: komunikasi suara.
“Saat kita menelfon, adalah hal biasa kalau suara kita tidak sampai ke lawan bicara karena gangguan koneksi. Bayangkan jika beberapa detik kemudian, suara tersebut sampai ke lawan bicara.”
Tentunya ini mengganggu bukan?
Jadi ada pertimbangan kenapa menggunakan UDP dibanding TCP:
  • Butuh komunikasi yang cepat
  • Tidak perlu membentuk koneksi terlebih dahulu
  • Tidak butuh error recovery
Semua diatas adalah kebalikan kriteria TCP.
Kita kembali ke studi kasus. Apa yang sebenarnya terjadi ketika client menginputkan alamat URL di browser? Apakah langsung terjadi koneksi TCP, lalu pengiriman data HTTP?
Jawabannya, tidak.
Ternyata masih ada satu proses lagi.
URL yang diinput misalnya: https://ngonfig.net, ini adalah domain. Komputer tidak bisa mengenali nama ini. Maka untuk mengenalinya dibutuhkan DNS atau Domain Name System.
Domain Name System adalah sebuah protocol yang digunakan untuk menerjemahkan alamat domain (contoh: ngonfig.net) menjadi alamat IP.
Proses DNS
Gambar 8: DNS Query
DNS server sudah memiliki sejumlah daftar domain-domain beserta alamat IP nya.
Jika suatu saat ada yang menanyakan, maka dia tinggal mengirimkan, dan tanpa ada proses untuk memastikan pesan tersebut diterima oleh client. Juga tidak ada pembentukan koneksi sebelum data tersebut dikirimkan.
Sampai disini saya harap kamu sudah memahami perbedaan antara TCP dengan UDP.
Nah, setelah alamat IP nya diketahui oleh client, maka client melakukan request koneksi ke IP tersebut.
Jadi pada proses-proses yang telah saya jelaskan diatas, komunikasinya tidak lagi diarahkan ke alamat domain, melainkan alamat IP.
Rangkuman alurnya: Input URL –> Menanyakan alamat IP dari sebuah domain –> Melakukan request koneksi ke IP yang sudah didapat –> Melakukan pengiriman data.
Alamat IP ini yang akan kita bahas pada network layer dibawah.
Note: VoIP tidak sepenuhnya UDP, tapi juga menggunakan RTP untuk sequencing. DNS juga membutuhkan TCP apabila besar data melebihi tampungan UDP.
More: When DNS uses TCP instead UDP.

#3. TCP/IP Internet Layer

Oh ya, semakin kebawah, pembahasan kita berarti semakin spesifik. Dari protocol yang banyak di application layer, menjadi semakin kerucut kebawah, hingga ke nilai-nilai bits di fisik.
Dibawah akan saya berikan gambarannya.
Sekarang kita bahas layer 3, atau sering disebut dengan Network Layer.
Di layer network atau internet layer juga terdapat banyak protocol. Tapi, satu-satunya, yang paling dikenal dan digunakan saat ini, yakni: IP atau Internet Protocol.
Disini saya tidak akan menjabarkan jenis-jenis IP address, kelasnya, apa itu network, dan apa itu host.
Melainkan kita hanya akan membahas konsepnya saja.

Analogi Internet Protokol dan Kantor Pos

Bayangkan saat ini kamu ingin mengirimkan surat ke 2 tujuan yang berbeda, lokal dan internasional, yaitu Jakarta dan Singapore.
… yang perlu kamu lakukan hanyalah menulis alamat tujuan dari surat tersebut dan meletakkannya di kotak pos atau bisa langsung mengantarkannya ke kantor pos.
Kita tidak perlu memikirkan dan tidak perlu mengatur bagaimana dan jalur mana yang harus ditempuh oleh pengantar surat agar sampai tujuan.
Betul bukan?
Analogi Routing
Gambar 9: Analogi Routing dengan Pengiriman Surat di Kantor Pos
Kita ketahui, kantor pos memiliki banyak cabang di setiap kota dan setiap daerah-daerah yang sering terjadi pengiriman.
Seperti gambar, ternyata jalur yang ditempuh oleh kedua surat itu berbeda.
Karena, yang pertama: surat yang tadi dikirimkan akan dibedakan alamat tujuannya.
Lalu dipisahkan berdasarkan kantor yang terdekat, disana juga dilakukan pemisahan berdasarkan tujuan pengiriman masing-masing. Ada yang harus dikirim terlebih dahulu ke kantor daerah, ada yang langsung dikirim ke alamat tujuan.

Lalu, apa kaitannya dengan IP?

Ingat saya katakan terhadap dua surat tersebut, ada yang dikirimkan ke kantor terlebih dahulu, ada yang langsung dikirim ke tujuan?
Ini karena di kantor pos sudah ada daftar alamat-alamat dan rute nya. Maka tak mungkin surat tersebut sampai jika kita tidak menyertakan alamatnya.
Pembagian alamat ini, kita bedakan menjadi 2:
  • Network address: misalnya, daerah Jakarta. Ini bisa dianggap seperti kode pos.
  • Host address: ternyata ada Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan seterusnya. Ini bisa dianggap seperti alamat detil pengiriman, contohnya nomor rumah.

Packet Dikirim Berdasarkan Alamat IP

Setelah memahami analoginya, kita lanjut ke studi kasus. Kali ini saya membedakan DNS server dengan HTTP server.
Dasar IP Address: Network Address dan Host Address
Gambar 10: Packet dibedakan atas network addressnya
Ingat baik-baik analoginya tadi, Internet Protocol mendefinisikan dua hal di IP Address. Perhatikan gambar diatas:
  1. Setiap IP yang dimiliki oleh host harus unik, 2.2.2.2, 3.3.3.3, dan 1.1.1.1
  2. Selain itu, IP address ini juga harus bisa dikelompokkan, contohnya 2.0.0.0, 3.0.0.0, dan 1.0.0.0
Maka jadinya seperti ini:
  • Client ingin mengetahui alamat IP dari domain https://ngonfig.net, maka mengirimkan query terlebih dahulu ke DNS Server, sampai di layer network, komunikasi IP terjadi antara 1.1.1.1 dengan 2.2.2.2 (DNS Server).
  • Setelah alamat IP didapat, client 1.1.1.1 membentuk koneksi TCP untuk proses pengiriman data HTTP ke server 3.3.3.3 (HTTP Server).
Nah router disitulah yang menentukan arah-arah tersebut. Ini ibaratkan kantor pos tadi. Kalau networknya berbeda, packet akan diteruskan ke router sebelahnya yang terhubung ke alamat tersebut.
Selengkapnya silakan baca penjelasan tentang IP Address.

Dasar Proses IP Routing

Kita ulang lagi proses yang sudah terjadi diatas: pertama, client mencari IP web server, setelah itu akan dilakukan komunikasi HTTP diawali dengan pembentukan koneksi.
Saat proses komunikasi HTTP, tentulah disini pesan yang dikirim sudah memiliki header. Nah di header ini terdapat informasi alamat IP, yaitu IP sumber dan IP tujuan.
Dasar IP Routing
Gambar 11: Proses IP Routing
Gambar diatas kita sebut sebagai ip routing (routing), agar jaringan memiliki daftar rute untuk mencapai wilayah tertentu. Disini kita bahas dasarnya saja.
Saat packet itu dikirim, inilah yang terjadi:
  1. Client akan membandingkan terlebih dahulu, apakah 3.3.3.3 satu wilayah dengannya atau tidak. Dalam kasus ini, tidak. Sehingga dia mengirimkannya ke R1.
  2. Peran R1 disinilah kita sebut sebagai gateway. R1 mengetahui kalau 3.3.3.3 adalah wilayah yang terhubung dengan R2, maka packet diteruskan ke R2.
  3. Sampai R2, packet pun dikirimkan langsung ke 3.3.3.3 (server).
Intinya, yang dilihat pertama kali adalah wilayahnya (network addressnya), kemudian alamat spesifiknya (host address).

#4. TCP/IP Link Layer (Data Link dan Physical)

Baik, diatas kita sudah membahas setengah materi kali ini.
Dari application layer (HTTP), lalu ke transport layer. Saat di transport layer kita kenal dengan host-to-host layer dengan jargonnya “Just give me your data stream, with any instructions, and I’ll begin the process of getting your information ready to send.”
Lalu di header TCP atau UDP tersebut terdapat source IP dan destination IP yang digunakan di layer network atau internet layer.
… belum selesai.
Karena setiap perangkat terhubung dengan media bukan? Baik wireless maupun wired.
Kini giliran Link Layer (Data Link dan Physical) untuk melakukan tugasnya.
Di TCP/IP original, data link dan physical masih digabung, berarti protocol dan hardware keduanya ada disini. Sedangkan di TCP/IP updated sudah dibedakan.
Sederhananya, link itu istilah yang digunakan untuk menyebutkan jalur antar node yang saling terhubung. Data yang dikirim adalah nilai bits, pada physical, dan frame pada data link.
Maka IP packet yang dibentuk di layer network tadi akan dibungkus lagi seperti ini:
Enkapsulasi Ethernet
Gambar 12: Proses enkapsulasi ethernet
  1. Client mengenkapsulasi IP packet dan berada diantara Ethernet header dan Ethernet trailer, ini akan menciptakan Ethernet frame.
  2. Ethernet frame ini ditransmisikan menggunakan sinyal bit melalui media penghubung.
  3. R1 menerima sinyal bits tersebut dan mengartikannya menjadi ethernet frame.
  4. Setelah ethernet frame terbentuk, maka ethernet header dan ethernet trailer tadi dibuang, menyisakan IP packet.
Selesai..
Mengenai jenis enkapsulasi ini akan kita banyak dibahas jika sudah sampai ke materi WAN, seperti HDLC, Frame-Relay, atau PPP.
… dan juga switching.
Ingat kalau switch tidak mengenal IP address, dia melakukan switching frame berdasarkan mac address yang sudah ada di tabelnya.
Nah untuk mencari tau IP address dari suatu perangkat, digunakan protocol ARP (Address Resolution Protocol).
[Kita bahas di lain kesempatan]
Pahami dulu tentang broadcast domain, dan collision domain, serta bagaimana switch memecah collision domain.

Enkapsulasi Data di TCP/IP

Baiklah, sebenarnya diatas saya sudah menjelaskan proses enkapsulasi dan deenkapsulasi ini. Untuk memudahkan pemahamannya, mari kita rangkum kembali prosesnya.
Diatas saya sudah menjelaskan bagaimana HTTP, TCP – UDP, IP, dan Ethernet melakukan tugasnya. Setiap layer ini akan menambahkan headernya (di data-link, ada trailer) dari data yang diterima dari layer yang diatasnya.
Server mengenkapsulasi isi konten di dalam HTTP header. Kemudian TCP layer mengenkapsulasi HTTP header tadi kedalam TCP header. Lalu IP mengenkapsulasi TCP header kedalam IP header.
… dan akhirnya di Ethernet link layer, dienkapsulasi IP packet kedalam header dan trailer. Ini kita sebut frame.
Sampai kemudian dikirimkan berupa sinyal bit melalui media penghubung.

Rangkuman Studi Kasus TCP/IP – Enkapsulasi dan Deenkapsulasinya (5 Tahap)

Tahap 1:Membentuk dan mengenkapsulasi application data dengan header layer application yang dibutuhkan. Misalnya pesan 200 (OK) di HTTP yang dibalas oleh HTTP header, dan diikuti oleh sebagian konten web.
Tahap 2:
Mengenkapsulasi data dari application layer ke header transport layer. Disini menggunakan TCP untuk HTTP atau UDP untuk DNS.
Tahap 3:
Data dari transport layer dienkapsulasi kedalam IP header.
Tahap 4:
IP Header kemudian dienkapsulasi dengan membungkusnya dengan ethernet header dan ethernet trailer.
Tahap 5:
Mengirim sinyal bit, yang nantinya akan diterjemahkan oleh perangkat penerima, dan menghasilkan ethernet frame kembali, dan deenkapsulasi pun dilakukan.
Sumber;https://ngonfig.net/tcp-ip.html

Pengertian Hardware dan Jenis-Jenisnya

Pengertian Hardware Jaringan Komputer dan Jenis-Jenisnya  August 28, 2017  Materi    Tkj Hai sahabat blogger, kali ini saya ak...